Resume Berita (Harlah ke-12 Unusa: Peduli Kesehatan Masyarakat, Angkat Pidato Ilmiah Tentang Kesehatan)
Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS), Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, menyampaikan bahwa salah satu indikator keberhasilan Unusa adalah prestasinya yang melampaui usianya. Salah satunya terlihat dari capaian akreditasi yang meliputi aspek akademik dan layanan.
“Hanya menitipkan sesuatu di satu titik tidak cukup untuk menjadi tempat tinggal. Kita harus menambah titik-titik lain hingga membentuk ruang yang bermanfaat. Kita akan mengembangkan Unusa menjadi kampus yang unggul, kedepannya kita akan membuka program PPDS Jantung serta Obgyn, S2 Kesehatan Masyakarat, serta Pendidikan Profesi Gizi” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa Unusa akan terus melihat dan mengkaji kebutuhan di sekitarnya untuk kemudian terlibat aktif dalam penelitian dan inovasi yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat. “Sebab, sebaik-baik manusia adalah yang selalu memberikan manfaat bagi sesamanya,” pungkasnya.
Sebagai dosen dan dokter ahli penyakit dalam, yang mengabdikan diri dalam praktek klinis sehari -hari Ardyarini merasakan keprihatinan mendalam atas makin meningkatnya jumlah pasien DM tipe 2 pada beberapa dekade terakhir. Disebutkan, pada tahun 2007 dan 2013 tercatat prevalensi DM tipe 2 di Indonesia meningkat dari 5,7% pada tahun 2007 menjadi 6,9% pada tahun 2013.
“Tingkat prevalensi ini terus meningkat pada tahun 2018 dan 2023, dimana prevalensi pada tahun 2018 mencapai 10,9% berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 dan menjadi 11,7% pada tahun 2023 berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023,” katanya.
Dalam kondisi seperti itulah Yurike mengembangkan sebuah model intervensi yang disebut sebagai Model Dukungan Manajemen Diri Berbasis Perawatan Transisi. “Model ini bertujuan untuk meningkatkan perilaku manajemen diri dan kemandirian aktivitas sehari-hari pasien stroke melalui penguatan efikasi diri sebagai mediator utama. Saya meyakini ketika pasien memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuannya, maka ia akan lebih termotivasi untuk mengelola kesehatannya secara aktif dan bertanggung jawab, bahkan setelah keluar dari rumah sakit,” katanya.
Kata Agus Aan, di lapangan masih menunjukkan banyak kendala, di antaranya, capaian kunjungan PNC di beberapa daerah, termasuk di Kota Surabaya, masih belum memenuhi target yang dipersyaratkan. ”Lebih dari 20% puskesmas belum mencapai target kunjungan PNC, mencerminkan rendahnya kesadaran dan akses ibu nifas terhadap layanan pasca persalinan.”
Referensi : Harlah ke-12 Unusa: Peduli Kesehatan Masyarakat, Angkat Pidato Ilmiah Tentang Kesehatan
Lihat juga blog teman saya






Komentar
Posting Komentar